Tampilkan postingan dengan label kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesenian. Tampilkan semua postingan

Batik Gajah Oling



Batik Gajah Oling, seni batik khas daerah Banyuwangi, Jawa Timur cukup kini terancam punah akibat ketiadaan regenerasi pembatik. Umi Kulsum, 80 tahun sesepuh pembatik di lingkungan Gajah Oling Kelurahan Temenggungan, Banyuwangi, Jawa Timur, mengaku prihatin melihat batik khas Banyuwangi terancam punah.

Nenek dua cucu yang lebih akrab disapa Mak Kulsum ini, hingga kini hari-harinya masih diisi dengan membuat kain batik. "Biasanya bentuk dan jenis batik terlebih dahulu digambar di kain. Bagi Mak hal tersebut tidak berlaku. Motif digambar secara langsung,"tegasnya.

Mak Kulsum mulai belajar membatik sejak masih duduk di bangku Sekolah Rakyat, tahun 1940. “ Yang membuat saya cemas, sekarang ini sulit mencari anak muda yang mau belajar membatik,’’ keluhnya.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi mengakui bila kini kelestarian batik Gajah Oling nyaris punah. Namun dinas ini tampaknya hanya pasrah lantaran mengaku kesulitan anggaran untuk melestarikannya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Banyuwangi, Budianto mengakui pihaknya sulit dalam memberikan perhatian lebih akan regenerasi pembatik tradisional lantaran minimnya dana yang dimiliki.

kebo - keboan banyuwangi


Ritual kebo-keboan digelar setahun sekali pada bulan Muharam atau Suro (penanggalan Jawa). Bulan ini diyakini memiliki kekuatan magis. Konon, ritual ini muncul sejak abad ke-18. Di Banyuwangi, kebo-keboan dilestarikan di dua tempat yakni di Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, dan Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi.

Munculnya ritual kebo-keboan di Alasmalang berawal terjadinya musibah pagebluk. Kala itu, seluruh warga diserang penyakit. Hama juga menyerang tanaman. Banyak warga kelaparan dan mati akibat penyakit misterius. Dalam kondisi genting itu, sesepuh desa Mbah Karti melakukan meditasi di bukit. Selama meditasi, tokoh yang disegani ini mendapatkan wangsit. Isinya, warga disuruh menggelar ritual kebo-keboan dan mengagungkan Dewi Sri atau yang dipercainya sebagai simbol kemakmuran.

Keajaiban muncul ketika warga menggelar ritual kebo-keboan. Warga yang sakit mendadak sembuh. Hama yang menyerang tanaman padi sirna. Sejak itu, ritual kebo-keboan dilestarikan. Mereka takut terkena musibah jika tidak melaksanakannya.

Tahun 1960-an ritual ini pernah tidak dilaksanakan karena situasi politik. Banyak warga kesurupan dan meminta sesaji. Dalam kondisi tak sadar, warga meminta kebo-keboan dilestarikan. Warga akhirnya kembali menggelar ritual serupa hingga sekarang.
“Ritual ini akan terus dijaga hingga kapan pun. Ini adalah warisan dan perintah dari leluhur desa ini,” kata Indra Gunawan (40), tokoh adat setempat.

Ritual yang meminta berkah keselamatan sebelum memulai musim tanam padi itu dimulai berbagai persiapan seperti memasang pintu gerbang terbuat dari hasil bumi, hingga menanam segala jenis pohon di tengah jalan. Tanaman inilah yang akan dilewati kerbau jadi-jadian. Pohon ditanam di sepanjang jalan menuju empat arah mata angin yang mengelilingi desa.

Hasil bumi sebagai simbol ungkapan syukur kepada penguasa alam. Warga menyambut ritual ini mirip perayaan hari raya. Hari pelaksanaan upacara dihitung menggunakan kalender Jawa kuno. Biasanya kepastian itu diputuskan para sesepuh adat. Pada hari pelaksanaan, seluruh warga membuat tumpeng ayam.

Sesajen ini dimasak secara tradisional khas suku Using, yakni pecel ayam, daging ayam dibakar dan dicampur urap kelapa muda.
Menjelang siang hari, warga berkumpul di depan rumah masing-masing. Beberapa orang bergerombol di pusat desa bersama para pejabat dan undangan. Dipimpin sesepuh adat, warga berdoa menggunakan bahasa Using kuno. Usai berdoa, warga berebut menyantap tumpeng yang diyakini mampu memberikan berkah keselamatan.

Usai pesta tumpeng, ritual dilanjutkan mengarak kerbau jadian-jadian. Puluhan manusia kerbau diarak keliling kampung. Layaknya kerbau, mereka berlari dikendalikan seorang petani. Bau kemenyan dan bunga merebak. Sebelum keliling kampung, seluruh manusia kerbau dikumpulkan dan diberi ritual khusus. Dalam kondisi tak sadar, mereka diarak diiringi gamelan angklung.

Puluhan kerbau jadi-jadian berjalan bergerombol. Beberapa ada yang nakal dan mencoba masuk di kerumunan massa yang menonton di pinggir jalan. Bagi yang tercium kerbau diyakini mendapat berkah. Tak sedikit, warga berebut untuk dicium. Jalan yang dilalui arak-arakan sengaja dibanjiri air. Tujuannya, kerbau yang lewat bisa berkubang.

Iring-iringan berjalan pelan ke arah empat penjuru desa. Di masing-masing arah, ditempatkan sesaji simbol tolak-balak. Sesaji terdiri atas bunga dan berbagai jenis hasil bumi. Di belakang gerombolan kerbau, sebuah kereta terbuat dari berbagai hasil bumi ikut berjalan pelan. Ini adalah kereta yang ditumpangi Dewi Sri. Sesosok perempuan cantik duduk dikelilingi beberapa petani. Di depannya, empat perempuan tua membawa peralatan ke sawah. Ini simbol petani yang akan bekerja di sawah.

Selain iring-iringan kerbau dan kereta Dewi Sri, belasan grup kesenian tradisional khas suku Using ikut ditampilkan, mulai kuntulan, gandrung hingga tari barong. Ada juga reog Ponorogo yang menambah riuhnya suasana.

Perjalanan arak-arakan berakhir di pusat kampung. Di tempat ini, Dewi Sri turun dari kereta dan memberikan berkah kepada petani. Sosok Dewi keberuntungan ini membagikan benih padi. Lagu pujian berkumandang mengagungkan kebesaran dewi kemakmuran ini. Selama ritual ini kerbau yang kesurupan berubah jinak. Mereka mendekat dan tunduk pada sosok Dewi Sri yang tersenyum ramah.

Kebo-keboan diakhiri dengan prosesi membajak sawah. Sepasang manusia kerbau menarik bajak di tengah sawah berlumpur. Layaknya kerbau asli, mereka berkeliling di hamparan sawah yang siap ditanami. Lalu, benih biji padi disebar. Warga langsung berebut biji yang baru disebar. Benih itu diyakini memberikan kesuburan.

Setelah berebut benih, warga, termasuk anak-anak, saling bergumul dengan manusia kerbau dalam lumpur. Mereka menikmati suasana sawah yang siap ditanami. Kegiatan ini yang paling dinanti warga. Mereka akan puas setelah mendapat benih dan ikut berkubang dalam lumpur, papar Indra Gunawan yang mengaku keturunan ke-6 sesepuh Desa Alasmalang.

Nama Alasmalang berasal dari kata alas (hutan) dan malang (melintang). Alasmalang berarti hutan yang melintang di atas bukit panjang. Di tempat ini terdapat makam keluarga Mbah Karti dan keturunannya. Di sini terdapat batu mirip tempat tidur yang dikenal watukloso. Batu ini dahulu tempat istirahat Mbah Karti. Hingga kini, sebagian besar warga Alasmalang adalah keturunan Mbah Karti

indahnya gandrung banyuwangi




Gandrung Banyuwangi berasal dari kata "gandrung", yang berarti 'tergila-gila' atau 'cinta habis-habisan' dalam bahasa Jawa. Kesenian ini masih satu genre dengan seperti ketuk pilu di Jawa Barat, tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, lengger di wilayahBanyumas dan joged bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan).

Bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.

Gandrung sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. Menurut kebiasaan, pertunjukan lengkapnya dimulai sejak sekitar pukul 21.00 dan berakhir hingga menjelang subuh (sekitar pukul 04.00).

Gandrung Banyuwangi merupakan gandrung terbaik yang pernah ada. Terbukti dengan ahli - ajli penari gandrung kebanyakan berasal dari bumi Blambangan ini alias Banyuwangi.

So, bangga donk dengan budaya Banyuwangi & bagi para wanita Banyuwangi lestarikan budaya kita jangan sampai diambil oleh bangsa asing lagi